Tuesday, September 23, 2008

TAUHID RUBUBIYYAH

TAUHID RUBUBIYYAH
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan


Pasal I
TAUHID RUBUBIYAH DAN PENGAKUAN
ORANG-ORANG MUSYRIK TERHADAPNYA

Tauhid adalah meyakini keesaan Allah dalam Rububiyah, ikhlas
beribadah kepadaNya, serta menetapkan bagiNya Nama-nama dan Sifat-
sifatNya. Dengan demikian, tauhid ada tiga macam: Tauhid Rububiyah ,
Tauhid Uluhiyah serta Tauhid Asma' wa Sifat. Setiap macam dari ketiga
macam tauhid itu memiliki makna yang harus dijelaskan agar menjadi
terang perbedaan antara ketiganya.

Makna Tauhid Rububiyah
Yaitu mengesakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam segala perbuatanNya,
dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Allah menciptakan segala
sesuatu ..." (Az-Zumar: 62)

Bahwasanya Dia adalah Pemberi rizki bagi setiap manusia, binatang dan
makhluk lainnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan tidak ada
suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi
rizkinya, ..." (Hud: 6)

Dan bahwasanya Dia adalah Penguasa alam dan Pengatur semesta, Dia
yang mengangkat dan menurunkan, Dia yang memuliakan dan menghinakan,
Mahakuasa atas segala sesuatu. Pengatur rotasi siang dan malam, Yang
menghidupkan dan Yang mematikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan
kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan
dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau
kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan
Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas
segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau
masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang
mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri
rizki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)." (Ali Imran:
26-27)

Allah telah menafikan sekutu atau pembantu dalam kekuasaan-Nya.
Sebagaimana Dia menafikan adanya sekutu dalam penciptaan dan
pemberian rizki. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Inilah ciptaan
Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan
oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah ..." (Luqman: 11)

"Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rizki jika Allah menahan
rizkiNya?" (Al-Mulk: 21)

Allah menyatakan pula tentang keesaanNya dalam rububiyah-Nya atas
segala alam semesta. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Segala puji
bagi Allah, Tuhan semesta alam." (Al-Fatihah: 2)

"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit
dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia
menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan
(diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-
masing) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan
memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam."
(Al-A'raf: 54)

Allah menciptakan semua makhlukNya di atas fitrah pengakuan terhadap
rububiyah-Nya. Bahkan orang-orang musyrik yang menye-kutukan Allah
dalam ibadah juga mengakui keesaan rububiyah-Nya.

Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya
`Arsy yang besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah."
Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?" Katakanlah: "Siapakah
yang di tanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia
melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya,
jika kamu mengetahui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah."
Katakanlah: "(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?"
(Al-Mu'minun: 86-89)

Jadi, jenis tauhid ini diakui semua orang. Tidak ada umat mana pun
yang menyangkalnya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk
mengakuiNya, melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya.
Sebagaimana perkataan para rasul yang difirmankan Allah: Berkata
rasul-rasul mereka: "Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah,
Pencipta langit dan bumi?" (Ibrahim: 10)

Adapun orang yang paling dikenal pengingkarannya adalah Fir'aun.
Namun demikian di hatinya masih tetap meyakiniNya. Sebagaimana
perkataan Musa alaihis salam kepadanya:
Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang
menurunkan mu`jizat-mu`jizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit
dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata: dan sesungguhnya aku mengira
kamu, hai Fir`aun, seorang yang akan binasa". (Al-Isra': 102)

Ia juga menceritakan tentang Fir'aun dan kaumnya:
"Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka)
padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya." (An-Naml: 14)

Begitu pula orang-orang yang mengingkarinya di zaman ini, se-perti
komunis. Mereka hanya menampakkan keingkaran karena ke-sombongannya.
Akan tetapi pada hakikatnya, secara diam-diam batin mereka meyakini
bahwa tidak ada satu makhluk pun yang ada tanpa Pencipta, dan tidak
ada satu benda pun kecuali ada yang membuatnya, dan tidak ada
pengaruh apa pun kecuali pasti ada yang mempenga-ruhinya. Firman
Allah Subhanahu wa Ta'ala :
"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang
menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan
langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang
mereka katakan)." (Ath-Thur: 35-36)

Perhatikanlah alam semesta ini, baik yang di atas maupun yang di
bawah dengan segala bagian-bagiannya, anda pasti mendapati semua itu
menunjukkan kepada Pembuat, Pencipta dan Pemiliknya. Maka mengingkari
dalam akal dan hati terhadap pencipta semua itu, sama halnya
mengingkari ilmu itu sendiri dan mencampakkannya, keduanya tidak
berbeda.

Adapun pengingkaran adanya Tuhan oleh orang-orang komunis saat ini
hanyalah karena kesombongan dan penolakan terhadap hasil renungan dan
pemikiran akal sehat. Siapa yang seperti ini sifatnya maka dia telah
membuang akalnya dan mengajak orang lain untuk menertawakan dirinya.


Pasal II
PENGERTIAN RABB DALAM AL-QUR'AN DAN AS-SUNNAH
DAN DALAM PANDANGAN UMAT-UMAT YANG SESAT

1. PENGERTIAN RABB DALAM AL-QUR'AN DAN AS-SUNNAH
Rabb adalah bentuk mashdar, berasal dari " Rabbun Yarobbu" yang
berarti (mengembangkan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain,
sampai pada keadaan yang sempurna). Dan bisa diungkapkan
dengan "Rabbahu wa Rabbaahu wa Rabbahu"

Jadi Rabb adalah kata mashdar yang dipinjam untuk fa'il (pelaku).
Kata-kata Ar-Rabb tidak disebut sendirian, kecuali untuk Allah yang
menjamin kemaslahatan seluruh makhluk. Adapun jika di-idhafah -kan
(ditambahkan kepada yang lain), maka hal itu bisa untuk Allah dan
bisa untuk lainNya. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
"Rabb semesta alam." (Al-Fatihah: 2)

Juga firmanNya: "Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang
dahulu". (Asy-Syu'ara: 26)

Dikatakan " " tuan rumah, pemilik rumah " " (pemilik kuda), dan di
antaranya lagi adalah perkataan Nabi Yusuf alaihis salam yang
difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Terangkanlah keadaanku
kepada tuanmu." Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan
Yusuf) kepada tuannya." (Yusuf: 42)

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Kembalilah kepada tuanmu ..."
(Yusuf: 50) "Adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi
minum tuannya dengan khamar ..." (Yusuf: 41)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits "Unta
yang hilang": "Sampai sang pemilik menemukannya".

Maka jelaslah bahwa kata Rabb diperuntukkan untuk Allah jika ma'rifat
dan mudhaf , sehingga kita mengatakan misalnya: (Tuhan Allah)
(Penguasa semesta alam), atau Tuhan manusia.

Dan tidak diperuntukkan kepada selain Allah kecuali jika di-idhafah-
kan, misalnya: "Robbad daari " (tuan rumah), atau "Rabbul ibil"
(pemilik unta) dan lainnya.

Makna "Rabbul 'alamin " adalah Allah Pencipta alam semesta, Pemilik,
Pengurus dan Pembimbing mereka dengan segala nikmat-Nya, serta dengan
mengutus para rasulNya, menurunkan kitab-kitab-Nya dan Pemberi
balasan atas segala perbuatan makhlukNya.

Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa konsekuensi rububiyah adalah aadanya
perintah dan larangan kepada hamba, membalas yang berbuat bbaik
dengan kebaikan, serta menghukum yang jahat atas kejahatannya.

2. PENGERTIAN RABB MENURUT PANDANGAN UMAT-UMAT YANG SESAT

Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan manusia dengan fitrah mengakui
tauhid serta mengetahui Rabb Sang Pencipta. Firman Allah: "Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah
atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus;
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Ar-Rum: 30)

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka
menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami
lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang
lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)." (Al-A'raf: 172)

Jadi mengakui rububiyah Allah dan menerimanya adalah sesuatu yang
fitri. Sedangkan syirik adalah unsur yang datang kemudian. Baginda
Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setiap bayi dilahirkan
atas dasar fitrah, maka kedua orang tua-nyalah yang menjadikannya
Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Seandainya seorang manusia diasingkan dan dibiarkan fitrahnya, pasti
ia akan mengarah kepada tauhid yang dibawa oleh para rasul, yang
disebutkan oleh kitab-kitab suci dan ditunjukkan oleh alam. Akan
tetapi bimbingan yang menyimpang dan lingkungan yang atheis itulah
faktor penyebab yang mengubah pandangan si bayi. Dari sanalah seorang
anak manusia mengikuti bapaknya dalam kesesatan dan penyimpangan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam hadits qudsi: "Aku ciptakan
hamba-hambaKu dalam keadaan lurus bersih, maka setanlah yang
memalingkan mereka." (HR. Muslim dan Ahmad)

Maksudnya, memalingkan mereka kepada berhala-berhala dan menjadikan
mereka itu sebagai tuhan selain Allah. Maka mereka jatuh dalam
kesesatan, keterasingan, perpecahan dan perbedaan; karena masing-
masing kelompok memiliki tuhan sendiri-sendiri. Sebab, ketika mereka
berpaling dari Tuhan yang hak, maka mereka akan jatuh ke dalam tuhan-
tuhan palsu. Sebagaimana firman Allah:

"Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya;
maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan." (Yunus:
32)

Kesesatan itu tidak memiliki batas dan tepi. Dan itu pasti terjadi
pada diri orang-orang yang berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta'ala .
FirmanNya: "... manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam
itu ataukah Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa? Kamu tidak menyembah
yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan
nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu
keterangan pun tentang nama-nama itu." (Yusuf: 39-40)

Dan syirik dalam tauhid rububiyah, yakni dengan menetapkan adanya dua
pencipta yang serupa dalam sifat dan perbuatannya, adalah mustahil.
Akan tetapi sebagian kaum musyrikin meyakini bahwa tuhan-tuhan mereka
memiliki sebagian kekuasaan dalam alam semesta ini. Setan telah
mempermainkan mereka dalam menyembah tuhan-tuhan tersebut, dan setan
mempermainkan setiap kelompok manusia berdasarkan kemampuan akal
mereka.

Ada sekelompok orang yang diajak untuk menyembah orang-orang yang
sudah mati dengan jalan membuat patung-patung mereka, sebagaimana
yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh alaihis salam .

Ada pula sekelompok lain yang membuat berhala-berhala dalam bentuk
planet-planet. Mereka menganggap planet-planet itu mem-punyai
pengaruh terhadap alam semesta dan isinya. Maka mereka membuatkan
rumah-rumah untuknya serta memasang juru kuncinya. Mereka pun
berselisih pandang tentang penyembahannya; ada yang menyembah
matahari, ada yang menyembah bulan dan ada pula yang menyembah planet-
planet lain, sampai mereka membuat piramida-piramida, dan masing-
masing planet ada piramidanya sendiri-sendiri.

Ada pula golongan yang menyembah api, yaitu kaum Majusi. Juga ada
kaum yang menyembah sapi, seperti yang ada di India; kelompok yang
menyembah malaikat, kelompok yang menyembah pohon-pohon dan batu
besar. Juga ada yang menyembah makam atau kuburan yang dikeramatkan.

Semua ini penyebabnya karena mereka membayangkan dan menggambarkan
benda-benda tersebut mempunyai sebagian dari sifat-sifat rububiyah.

Ada pula yang menganggap berhala-berhala itu mewakili hal-hal yang
ghaib. Imam Ibnul Qayyim berpendapat:
"Pembuatan berhala pada mulanya adalah penggambaran terhadap tuhan
yang ghaib, lalu mereka membuat patung berdasarkan bentuk dan rupanya
agar bisa menjadi wakilnya serta mengganti kedudukannya. Kalau tidak
begitu, maka sesungguhnya setiap orang yang berakal tidak mungkin
akan memahat patung dengan tangannya sendiri kemudian meyakini dan
mengatakan bahwa patung pahatan-nya sendiri itu adalah tuhan
sembahannya."

Begitu pula para penyembah kuburan, baik dahulu maupun sekarang,
mereka mengira orang-orang mati itu dapat membantu mereka, juga dapat
menjadi perantara antara mereka dengan Allah dalam pemenuhan hajat-
hajat mereka. Mereka mengatakan:

"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka men-dekatkan
kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." (Az-Zumar: 3)

"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat
mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula)
kemanfa'atan, dan mereka berkata: 'Mereka itu adalah pemberi syafa'at
kepada kami di sisi Allah'." (Yunus: 18)

Sebagaimana halnya sebagian kaum musyrikin Arab dan Nasrani mengira
tuhan-tuhan mereka adalah anak-anak Allah. Kaum musy-rikin Arab
menganggap malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Orang Nasrani
menyembah Isa alaihis salam atas dasar anggapan ia sebagai anak laki-
laki Allah.


3. SANGGAHAN TERHADAP PANDANGAN YANG BATIL DI ATAS

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyanggah pandangan-pandangan
tersebut:

Sanggahan terhadap para penyembah berhala: "Maka apakah patut kamu
(hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-Uzza, dan Manah
yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?"
(An-Najm: 19-20)

Tafsir ayat tersebut menurut Imam Al-Qurthubi, "Sudahkah engkau
perhatikan baik-baik tuhan-tuhan ini. Apakah mereka bisa mendatangkan
manfaat atau madharat, sehingga mereka itu dijadikan sebagai sekutu-
sekutu Allah?"

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:"Dan bacakanlah kepada mereka
kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: 'Apakah
yang kamu sembah?' Mereka menjawab: 'Kami menyembah berhala-berhala
dan kami senantiasa tekun menyembahnya'. Berkata Ibrahim: 'Apakah
berhala-berhala itu mendengar (do`a) mu sewaktu kamu berdo'a
(kepadanya)?, atau (dapatkah) mereka memberi manfa'at kepadamu atau
memberi mudharat?" Mereka menjawab: '(Bukan karena itu) sebenarnya
Kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian'." (Asy-Syu'ara: 69-
74)

Mereka sepakat, berhala-berhala itu tidak bisa mendengar permohonan,
tidak bisa mendatangkan manfaat dan madharat. Akan tetapi mereka
menyembahnya karena taklid buta kepada nenek moyang mereka. Sedangkan
taklid adalah hujjah yang batil.

Sanggahan terhadap penyembah matahari, bulan dan bintang. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"... dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang
(masing-masing) tunduk kepada perintahNya." (Al-A'raf: 54)

"Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaanNya ialah malam, siang,
matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah
(pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang
menciptakannya, jika kamu hanya kepadaNya saja menyembah."
(Fushshilat: 37)

Sanggahan terhadap penyembah malaikat dan Nabi Isa atas dasar
anggapan sebagai anak Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Allah sekali-kali tidak
mempunyai anak, ..." (Al-Mu'minun: 91)
"Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri."
(Al-An'am: 101)
"Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang
pun yang setara dengan Dia." (Al-Ikhlas: 3-4)

Pasal III
ALAM SEMESTA DAN FITRAHNYA
DALAM TUNDUK DAN PATUH KEPADA ALLAH


Sesungguhnya alam semesta ini: langit, bumi, planet, bintang, hewan,
pepohonan, daratan, lautan, malaikat, serta manusia seluruh-nya
tunduk kepada Allah dan patuh kepada perintah kauniyah-Nya. Allah
Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "cpadahal kepadaNya-lah berserah diri
segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun
terpaksa c" (Ali Imran: 83)

"... bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan
Allah; semua tunduk kepadaNya." (Al-Baqarah: 116)

"Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit
dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat,
sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri." (An-Nahl: 49)

"Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang
ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-
pohonan, binatang-binatang yang melata dan seba-gian besar daripada
manusia?" (Al-Hajj: 18)

"Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan
di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud
pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari." (Ar-Ra'd: 15)

Jadi seluruh benda alam semesta ini tunduk kepada Allah, patuh kepada
kekuasaanNya, berjalan menurut kehendak dan perintahNya. Tidak satu
pun makhluk yang mengingkariNya. Semua menjalankan tugas dan perannya
masing-masing serta berjalan menurut aturan yang sangat sempurna.
Penciptanya sama sekali tidak memiliki sifat kurang, lemah dan cacat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Langit yang tujuh, bumi dan
semua yang ada di dalamnya ber-tasbih kepada Allah. Dan tak ada
suatupun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian
tidak mengerti tasbih mereka." (Al-Isra': 44)

Jadi seluruh makhluk, baik yang berbicara maupun yang tidak, yang
hidup maupun yang mati, semuanya tunduk kepada perintah kauniyah
Allah. Semuanya menyucikan Allah dari segala kekurangan dan
kelemahan, baik secara keadaan maupun ucapan.

Orang yang berakal pasti semakin merenungkan makhluk-makhluk ini,
semakin yakin itu semua diciptakan dengan hak dan untuk yang hak.
Bahwasanya ia diatur dan tidak ada pengaturan yang keluar dari aturan
Penciptanya. Semua meyakini Sang Pencipta dengan fitrahnya.

Imam Ibnu Taimiyah berkata, "Mereka tunduk menyerah, pasrah dan
terpaksa dari berbagai segi, di antaranya:
Keyakinan bahwa mereka sangat membutuhkanNya.
Kepatuhan mereka kepada qadha', qadar dan kehendak Allah yang ditulis
atas mereka.
Permohonan mereka kepadaNya ketika dalam keadaan darurat atau
terjepit.
Seorang mukmin tunduk kepada perintah Allah secara ridha dan ikhlas.
Begitu pula ketika mendapatkan cobaan, ia sabar menerima-nya. Jadi ia
tunduk dan patuh dengan ridha dan ikhlas."
Sedangkan orang kafir, maka ia tunduk kepada perintah Allah yang
bersifat kauni (sunnatullah).

Adapun maksud dari sujudnya alam dan benda-benda adalah ketundukan
mereka kepada Allah. Dan masing-masing benda bersujud menurut
kesesuaiannya, yaitu suatu sujud yang sesuai dengan kondisinya serta
mengandung makna tunduk kepada Ar-Rabb. Dan bertasbihnya masing-
masing benda adalah hakikat, bukan majaz, dan itu sesuai dengan
kondisinya masing-masing.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menafsirkan firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala : "Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama
Allah, padahal kepadaNya-lah berserah diri segala apa yang di langit
dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada
Allahlah mereka dikembalikan." (Ali Imran: 83)

Dengan mengatakan, "Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan ketundukan
benda-benda secara sukarela dan terpaksa, karena seluruh makhluk
wajib beribadah kepadaNya dengan penghambaan yang umum, tidak peduli
apakah ia mengakuiNya atau mengingkariNya. Mereka semua tunduk dan
diatur. Mereka patuh dan pasrah kepadaNya secara rela maupun
terpaksa."

Tidak satu pun dari makhluk ini yang keluar dari kehendak, takdir dan
qadha'Nya. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah. Dia
adalah Pencipta dan Penguasa alam. Semua milikNya. Dia bebas berbuat
terhadap ciptaanNya sesuai dengan kehendakNya. Semua adalah
ciptaanNya, diatur, diciptakan, diberi fitrah, membutuhkan dan
dikendalikanNya. Dialah Yang Mahasuci, Mahaesa, Mahaperkasa,
Pencipta, Pembuat dan Pembentuk.

Pasal IV
MANHAJ AL-QUR'AN DALAM MENETAPKAN WUJUD DAN
KEESAAN AL-KHALIQ


Manhaj Al-Qur'an dalam menetapkan wujud Al-Khaliq serta keesaanNya
adalah satu-satunya manhaj yang sejalan dengan fitrah yang lurus dan
akal yang sehat. Yaitu dengan mengemukakan bukti-bukti yang benar,
yang membuat akal mau menerima dan musuh pun menyerah. Di antara
dalil-dalil itu adalah:

Sudah menjadi kepastian, setiap yang baru tentu ada yang mengadakan.
Ini adalah sesuatu yang dimaklumi setiap orang melalui fitrah, bahkan
hingga oleh anak-anak. Jika seorang anak dipukul oleh seseorang
ketika ia tengah lalai dan tidak melihatnya, ia pasti akan
berkata, "Siapa yang telah memukulku?" Kalau dikatakan
kepadanya, "Tidak ada yang memukulmu", maka akalnya tidak dapat
menerima-nya. Bagaimana mungkin ada pukulan tanpa ada yang
melakukannya. Kalau dikatakan kepadanya, "Si Fulan yang memukulmu",
maka kemungkinan ia akan menangis sampai bisa membalas memukulnya.
Karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Apakah mereka
diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri
mereka sendiri)?" (Ath-Thur: 35)

Ini adalah pembagian yang membatasi, yang disebutkan Allah dengan
shighat istifham inkari (bentuk pertanyaan menyangkal), guna
menjelaskan bahwa mukadimah ini sudah merupakan aksioma (kebenaran
yang nyata), yang tidak mungkin lagi diingkari. Dia
berfirman, "Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun?" Maksudnya
tanpa pencipta yang menciptakan mereka, ataukah mereka menciptakan
diri mereka sendiri? Tentu tidak. Kedua hal itu sama-sama batil. Maka
tidak ada kemungkinan lain kecuali mereka mempunyai pencipta yyang
menciptakan mereka yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala , dan tidak ada
lagi pencipta lainNya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Inilah
ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah
diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah ..." (Luqman: 11)

"... perlihatkan kepadaKu apakah yang telah mereka ciptakan dari
bumi ..." (Al-Ahqaf: 4)

"... apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat
menciptakan seperti ciptaanNya sehingga kedua ciptaan itu serupa
menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala
sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa". (Ar-Ra'd:
16)

"Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak
dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersa-tu untuk
menciptakannya." (Al-Hajj: 73)

"Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat
membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat
orang." (An-Nahl: 20)

"Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak
dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil
pelajaran." (An-Nahl: 17)

Sekalipun sudah ditantang berulang-ulang seperti itu, namun tidak
sseorang pun yang mengaku bahwa dia telah menciptakan sesuatu.
Pengakuan atau dakwaan saja tidak ada, apalagi menetapkan dengan
bukti. Jadi, ternyata benar hanya Allah-lah Sang Pencipta, dan tidak
ada sekutu bagiNya.

Teraturnya semua urusan alam, juga kerapiannya adalah bukti paling
kuat yang menunjukkan bahwa pengatur alam ini hanyalah Tuhan yang
satu, yang tidak bersekutu atau pun berseteru. Allah Subhanahu wa
Ta'ala berfirman:

"Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada
tuhan (yang lain) besertaNya, kalau ada tuhan besertaNya, masing-
masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan
sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain."
(Al-Mu'minun: 91)

Tuhan yang hak harus menjadi pencipta sejati. Jika ada tuhan lain
dalam kerajaannya, tentu tuhan itu juga bisa mencipta dan berbuat.
Ketika itu pasti ia tidak akan rela adanya tuhan lain bersamanya.
Bahkan, seandainya ia mampu mengalahkan temannya dan menguasai
sendiri kerajaan serta ketuhanan, tentu telah ia lakukan. Apabila ia
tidak mampu mengalahkannya, pasti ia hanya akan mengurus kerajaan
miliknya. Sebagaimana raja-raja di dunia mengurus kerajaannya sendiri-
sendiri. Maka terjadilah perpecahan, sehingga harus terjadi salah
satu dari tiga perkara berikut ini:
Salah satunya mampu mengalahkan yang lain dan menguasai alam
sendirian.
Masing-masing berdiri sendiri dalam kerajaan dan penciptaan, sehingga
terjadi pembagian (kekuasaan).
Kedua-duanya berada dalam kekuasaan seorang raja yang bebas dan
berhak berbuat apa saja terhadap keduanya. Dengan demikian maka
dialah yang menjadi tuhan yang hak, sedangkan yang lain adalah
hambanya.

Dan kenyataannya, dalam alam ini tidak terjadi pembagian (ke-kuasaan)
dan ketidakberesan. Hal ini menunjukkan pengaturnya adalah Satu dan
tak seorang pun yang menentangNya. Dan bahwa Rajanya adalah Esa,
tidak ada sekutu bagiNya.

Tunduknya makhluk-makhluk untuk melaksanakan tugasnya sendiri-sendiri
serta mematuhi peran yang diberikanNya. Tidak ada satu pun makhluk
yang membangkang dari melaksanakan tugas dan fungsinya di alam
semesta ini. Inilah yang dijadikan hujjah oleh Nabi Musa alaihis
salam ketika ditanya Fir'aun: "Berkata Fir'aun: 'Maka siapakah
Tuhanmu berdua, hai Musa? Musa berkata: 'Tuhan kami ialah (Tuhan)
yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya,
kemudian memberinya petunjuk'." (Thaha: 49-50)

Jawaban Musa sungguh tepat dan telak, "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang
telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya,
kemudian memberinya petunjuk." Maksudnya, Tuhan kami yang telah
menciptakan semua makhluk dan memberi masing-masing makhluk suatu
ciptaan yang pantas untuknya; mulai dari ukuran, be-sar, kecil dan
sedangnya serta seluruh sifat-sifatnya. Kemudian me-nunjukkan kepada
setiap makhluk tugas dan fungsinya. Petunjuk ini adalah hidayah yang
sempurna, yang dapat disaksikan pada setiap makhluk. Setiap makhluk
kamu dapati melaksanakan apa yang menjadi tugasnya. Apakah itu dalam
mencari manfaat atau menolak baha-ya. Sampai hewan ternak pun
diberiNya sebagian dari akal yang mem-buatnya mampu melakukan yang
bermanfaat baginya dan mengusir bahaya yang mengancamnya, dan juga
mampu melakukan tugasnya dalam kehidupan. Ini seperti firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala :

"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya ..."
(As-Sajdah: 7)

Jadi yang telah menciptakan semua makhluk dan memberinya sifat
penciptaan yang baik, yang akan manusia tidak bisa mengusulkan yang
lebih baik lagi, juga yang telah menunjukkan kepada kemasla-hatannya
masing-masing adalah Tuhan yang sebenarnya. Menging-kariNya adalah
mengingkari wujud yang paling agung. Dan hal itu merupakan
kecongkakan atau kebohongan yang terang-terangan.

Allah memberi semua makhluk segala kebutuhannya di dunia, kemudian
menunjukkan cara-cara pemanfaatannya. Dan tidak syak lagi jika Dia
telah memberi setiap jenis makhluk suatu bentuk dan rupa yang sesuai
dengannya. Dia telah memberi setiap laki-laki dan perempuan bentuk
yang sesuai dengan jenisnya, baik dalam pernikahan, perasaan dan
unsur sosial. Juga telah memberi setiap anggota tubuh bentuk yang
sesuai untuk suatu manfaat yang telah ditentukan-Nya. Semua ini
adalah bukti-bukti nyata bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah
Tuhan bagi segala sesuatu, dan Dia yang berhak disembah, bukan yang
lain.

"Pada setiap benda terdapat bukti bagiNya, yang menunjukkan bahwa Dia
adalah Esa."

Kemudian, tak diragukan lagi, maksud penetapan rububiyah Allah atas
makhlukNya dan keesaanNya dalam rububiyah adalah untuk menunjukkan
wajibnya menyembah Allah semata, tanpa sekutu bagiNya, yakni tauhid
uluhiyah.

Seandainya seseorang mengakui tauhid rububiyah tetapi tidak mengimani
tauhid uluhiyah, atau tidak mau melaksanakannya, maka ia tidak
menjadi muslim dan bukan ahli tauhid, bahkan ia adalah kafir jahid
(yang menentang). Dan tema inilah yang akan kita bahas pada pasal
berikutnya, insya Allah.

Pasal V
TAUHID RUBUBIYAH MENGHARUSKAN ADANYA
TAUHID ULUHIYAH


Hal ini berarti siapa yang mengakui tauhid rububiyah untuk Allah,
dengan mengimani tidak ada pencipta, pemberi rizki dan pengatur alam
kecuali Allah, maka ia harus mengakui bahwa tidak ada yang berhak
menerima ibadah dengan segala macamnya kecuali Allah Subhanahu wa
Ta'ala . Dan itulah tauhid uluhiyah.

Tauhid uluhiyah, yaitu tauhid ibadah, karena ilah maknanya adalah
ma'bud (yang disembah). Maka tidak ada yang diseru dalam do'a kecuali
Allah, tidak ada yang dimintai pertolongan kecuali Dia, tidak ada
yang boleh dijadikan tempat bergantung kecuali Dia, tidak boleh
menyembelih kurban atau bernadzar kecuali untukNya, dan tidak boleh
mengarahkan seluruh ibadah kecuali untukNya dan karenaNya semata.

Jadi, tauhid rububiyah adalah bukti wajibnya tauhid uluhiyah . Karena
itu seringkali Allah membantah orang yang mengingkari tauhid uluhiyah
dengan tauhid rububiyah yang mereka akui dan yakini. Seperti firman
Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang
telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu
bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan
langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu
Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki
untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi
Allah, padahal kamu mengetahui." (Al-Baqarah: 21-22)

Allah memerintahkan mereka bertauhid uluhiyah, yaitu menyem-bahNya
dan beribadah kepadaNya. Dia menunjukkan dalil kepada mereka dengan
tauhid rububiyah, yaitu penciptaanNya terhadap manusia dari yang
pertama hingga yang terakhir, penciptaan langit dan bumi serta
seisinya, penurunan hujan, penumbuhan tumbuh-tumbuhan, pengeluaran
buah-buahan yang menjadi rizki bagi para hamba. Maka sangat tidak
pantas bagi mereka jika menyekutukan Allah dengan yang lainNya; dari
benda-benda atau pun orang-orang yang mereka sendiri mengetahui bahwa
ia tidak bisa berbuat sesuatu pun dari hal-hal tersebut di atas dan
lainnya.

Maka jalan fitri untuk menetapkan tauhid uluhiyah adalah berdasarkan
tauhid rububiyah. Karena manusia pertama kalinya sangat bergantung
kepada asal kejadiannya, sumber kemanfaatan dan kemadharatannya.
Setelah itu berpindah kepada cara-cara ber-taqarrub kepadaNya, cara-
cara yang bisa membuat ridhaNya dan yang menguatkan hubungan antara
dirinya dengan Tuhannya. Maka tauhid rububiyah adalah pintu gerbang
dari tauhid uluhiyah. Karena itu Allah ber-hujjah atas orang-orang
musyrik dengan cara ini. Dia juga memerintahkan RasulNya untuk ber-
hujjah atas mereka seperti itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Katakanlah: 'Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada
padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab: "Kepunyaan
Allah." Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak ingat?"
Katakanlah: "Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya
`Arsy yang besar?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah."
Katakanlah: "Maka apakah kamu tidak bertakwa?" Katakanlah: "Siapakah
yang di tanganNya berada keku-asaan atas segala sesuatu sedang Dia
melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya,
jika kamu mengeta-hui?" Mereka akan menjawab: "Kepunyaan Allah."
Katakanlah: "(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?"
(Al-Mu'minun: 84-89)

"(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan
kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta
segala sesuatu, maka sembahlah Dia; ..." (Al-An'am: 102)

Dia berdalil dengan tauhid rububiyah-Nya atas hakNya untuk disembah.
Tauhid uluhiyah inilah yang menjadi tujuan dari pencipta-an manusia.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan Aku tidak menciptakan jin
dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Adz-Dzariyat: 56)

Arti " Ya'buduun " adalah mentauhidkanKu dalam ibadah. Seorang hamba
tidaklah menjadi muwahhid hanya dengan mengakui tauhid rububiyah
semata, tetapi ia harus mengakui tauhid uluhiyah serta
mengamalkannya. Kalau tidak, maka sesungguhnya orang musyrik pun
mengakui tauhid rububiyah, tetapi hal ini tidak membuat mereka masuk
dalam Islam, bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
memerangi mereka. Padahal mereka mengakui bahwa Allah-lah Sang
Pencipta, Pemberi rizki, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. Firman
Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Dan sungguh jika kamu bertanya kepada
mereka: 'Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka
menjawab: 'Allah', ..." (Az-Zukhruf: 87)

"Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: 'Siapakah yang
menciptakan langit dan bumi?', niscaya mereka akan
menjawab: 'Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Ma-ha
Mengetahui'." (Az-Zukhruf: 9)

"Katakanlah, 'Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan
bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan
penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati
dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur
segala urusan?' Maka mereka akan menjawab: "Allah". (Yunus: 31)

Hal semacam ini banyak sekali dikemukakan dalam Al-Qur'an. Maka
barangsiapa mengira bahwa tauhid itu hanya meyakini wujud Allah, atau
meyakini bahwa Allah adalah Al-Khaliq yang mengatur alam, maka
sesungguhnya orang tersebut belumlah mengetahui hakikat tauhid yang
dibawa oleh para rasul. Karena sesungguhnya ia hanya mengakui sesuatu
yang diharuskan, dan meninggalkan sesuatu yang mengharuskan; atau
berhenti hanya sampai pada dalil tetapi ia meninggalkan isi dan inti
dari dalil tersebut.

Di antara kekhususan ilahiyah adalah kesempurnaanNya yang mutlak
dalam segala segi, tidak ada cela atau kekurangan sedikit pun. Ini
mengharuskan semua ibadah mesti tertuju kepadaNya; pengagungan,
penghormatan, rasa takut, do'a, pengharapan, taubat, tawakkal, minta
pertolongan dan penghambaan dengan rasa cinta yang paling dalam,
semua itu wajib secara akal, syara' dan fitrah agar ditujukan khusus
kepada Allah semata. Juga secara akal, syara' dan fitrah, tidak
mungkin hal itu boleh ditujukan kepada selainNya.

[Dinukil dari Kitab Tauhid 1, Syaikh Shalih Fauzan]
"> " border="0" alt="" />
"> " border="0" alt="" />
"> " border="0" alt="" />
"> " border="0" alt="" />
"> " border="0" alt="" />

deception poin serial 1-2


DECEPTION

POINT

DAN BROWN

(TITIK MUSLIHAT)

eBook by MR.

Copyright arranged with: Sanford J. Greenburger Associates

55 Fifth Avenue, New York, NY 1 0003, USA.

trough Tuttle-Mori Agency Co., Ltd.

Diterjemahkan dari Deception Point karangan Dan Brown,

terbitan Pocket Books, New York, Cet. ke-2

Hak terjemahan Indonesia pada Serambi

Dilarang mereproduksi atau memperbanyak seluruh maupun

sebagian dari buku ini dalam bentuk atau cara apa pun

tanpa izin tertulis dari penerbit

Penerjemah: Isma B. Koesalamwardi dan Hendry M. Tanaja

Penyerasi: Vitri Mayastuti

Pewajah Isi: Fadly's

PT SERAMBI ILMU SEMESTA

Anggota IKAPI

Jin. Kemang Timur Raya No. 16, Jakarta 12730

www.serambi.co.id; info@serambi.co.id

Edisi Hard Cover

Cetakan I: Oktober 2006

ISBN: 979-1112-49-5

Buku ini adalah karya fiksi. Semua nama, karakter, tempat,

dan peristiwa adalah hasil imajinasi penulis dan bersifat khayalan.

Setiap kesamaan dengan peristiwa, tempat, atau tokoh nyata, yang masih

hidup maupun yang sudah mati, adalah kebetulan belaka.

Dicetak oleh Percetakan PT. Ikror Mandiriabadi, Jakarta

Isi diluar tanggung jawab percetakan

CATATAN PENGARANG

Delta Force, National Reconnaissance Office, dan Space

Frontier Foundation adalah organisasi nyata. Semua teknologi

yang digambarkan dalam novel ini benar-benar ada.

"Jika dapat dipastikan kebenarannya, penemuan ini pasti

akan menjadi wawasan yang paling mencengangkan tentang

alam semesta kita dan akan menguak misteri yang

belum dipahami oleh ilmu pengetahuan sebelumnya. Implikasinya

begitu jauh dan mengagumkan. Walaupun menjanjikan

jawaban bagi beberapa pertanyaan paling klasik

yang dimiliki umat manusia, penemuan ini juga masih

menyisakan beberapa pertanyaan lain yang lebih fundamental."

—Presiden Bill Clinton, dalam konferensi pers

setelah penemuan yang dikenal sebagai ALH84001

pada 7 Agustus 1996

PROLOG

KEMATIAN, DI tempat yang terpencil seperti ini, dapat

terjadi dalam berbagai cara yang tak terhitung jumlahnya.

Sebagai seorang geologis, Charles Brophy mampu hidup

di daerah liar yang menawan ini selama bertahun-tahun,

namun tidak ada yang mampu mempersiapkan dirinya

untuk menghadapi takdir yang kejam dan aneh seperti

yang sebentar lagi akan menimpanya.

Ketika keempat anjing husky-nya menarik kereta luncur

salju yang berisi peralatan peraba geologis menyeberangi

tundra, tiba-tiba saja anjing-anjing tersebut memperlambat

lari mereka dan menatap langit.

"Ada apa, Anak-anak?" tanya Brophy sambil turun

dari kereta luncurnya.

Di antara kumpulan awan badai, sebuah helikopter

bermesin ganda muncul dan menurunkan ketinggiannya.

Pesawat itu kemudian menyusuri puncak gunung bersalju

di sekitarnya dengan ketangkasan layaknya pesawat militer.

Ini aneh, pikir Brophy. Dia tidak pernah melihat

helikopter di kawasan utara yang terpencil ini. Helikopter

tersebut mendarat lima puluh yard darinya, menerbangkan

butiran salju yang tajam di sekitar situ. Anjing-anjing

Brophy mendengking-dengking dan tampak waspada.

Ketika pintu helikopter bergeser terbuka, dua orang lelaki

turun. Mereka mengenakan pakaian berwarna putih yang sangat

tebal, masing-masing bersenjatakan sepucuk senapan, dan bergerak

ke arah Brophy dengan cepat.

"Dr. Brophy?" seru seorang di antaranya.

Ahli geologi itu tercengang. "Bagaimana kautahu namaku?

Siapa kalian?"

"Maaf? Aku tidak mengerti."

"Lakukan sajalah."

Dengan kebingungan, Brophy mengeluarkan radionya dari

dalam mantel bulunya.

"Kami ingin kau mengirimkan pesan darurat. Turunkan frekuensi

radiomu menjadi seratus kilohertz."

Seratus kilohertz? Saat itu Brophy betul-betul merasa bingung.

Tidak ada yang dapat menerima gelombang serendah itu. "Memangnya

telah terjadi kecelakaan?"

Lelaki kedua mengangkat senapannya dan mengarahkannya

ke kepala Brophy. "Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kerjakan

saja!"

Dengan gemetar, Brophy mengatur frekuensi transmisi radionya.

Lelaki pertama menyerahkan sebuah kartu catatan dengan beberapa

baris kalimat terketik di atasnya. "Kirimkan pesan ini. Sekarang."

Brophy melihat kartu itu. "Aku tidak mengerti. Informasi

ini tidak benar. Aku tidak—"

Lelaki itu menekankan senapannya dengan keras di pelipis

ahli geologi tersebut.

Suara Brophy terdengar gemetar ketika mengirimkan pesan

aneh itu.

"Bagus," kata lelaki pertama. "Sekarang masuk ke helikopter.

Bawa anjing-anjingmu juga."

Di bawah todongan senapan, Brophy mengatur anjinganjingnya

yang enggan bergerak itu dan juga kereta luncurnya,

"Silakan keluarkan radiomu."

menaiki jalur landai menuju bagian kargo helikopter. Begitu

mereka sudah masuk, helikopter tersebut langsung mengudara

dan membelok ke arah barat.

"Siapa kalian?" tanya Brophy. Berada di bawah todongan

senjata untuk melakukan sesuatu yang tidak dimengerti dan

dipaksa menaiki helikopter asing menuju entah ke mana membuat

keringatnya mulai muncul di balik mantel bulunya. Dan

apa arti pesan tadi!

Orang-orang itu tidak berkata apa-apa.

Ketika helikopter terbang semakin tinggi, angin mulai memukul-

mukul melalui pintu yang terbuka. Anjing-anjing husky

Brophy, yang masih terpasang pada kereta luncurnya, mulai

mendengking-dengking lagi.

"Paling tidak, tutuplah pintu itu," pinta Brophy. "Kau tidak

lihat kalau anjing-anjingku ketakutan?"

Orang-orang itu tidak menjawab.

Ketika helikopter itu naik hingga ketinggian empat ribu

kaki, pesawat tersebut membelok tajam melewati serangkaian

jurang es dan celah-celah curam. Tiba-tiba, kedua lelaki asing

itu berdiri. Tanpa banyak bicara, mereka mencengkeram kereta

luncur yang bermuatan berat itu dan mendorongnya keluar

pintu helikopter yang terbuka. Brophy menyaksikan dengan

ketakutan ketika anjing-anjingnya yang berusaha melawan dengan

sia-sia itu tertarik kereta luncur yang berat. Dalam sekejap

hewan-hewan itu menghilang, terseret sambil melolong-lolong,

melayang keluar dari helikopter.

Brophy langsung berdiri sambil berteriak ketika kemudian

kedua lelaki itu juga mencengkeramnya. Mereka menggiringnya

ke dekat pintu. Dengan rasa takut yang amat sangat, Brophy

mengibaskan lengannya dan berusaha menepis tangan-tangan

kuat yang mendorongnya ke luar tanpa ampun.

Tapi tidak ada gunanya. Beberapa saat kemudian, Brophy

sudah jatuh ke arah jurang di bawahnya.[]

RESTORAN TOULOS, yang berdekatan dengan Capitol Hill,

menjagokan menu yang secara politis tidak benar: daging anak

lembu yang lunak dan carpaccio kuda. Walau demikian, restoran

tersebut adalah tempat makan pagi yang strategis meski ironis

bagi para politisi tertentu yang saat ini sedang berkuasa di

Washington.

Pagi ini restoran Toulos ramai—bunyi riuh dentingan sendokgarpu

dan pisau dari perak, mesin pembuat espresso, dan percakapan

melalui ponsel.

Sang maitre d' sedang menyesap Bloody Mary paginya secara

diam-diam ketika seorang perempuan memasuki restoran. Sang

maitre d' kemudian memandang perempuan itu sambil melayangkan

senyuman terlatihnya.

"Selamat pagi. Bisa saya bantu?"

Penampilan perempuan itu menarik. Dia berusia pertengahan

tiga puluh tahun, mengenakan celana panjang flanel berlipit

berwarna kelabu, blus berwarna gading rancangan Laura Ashley,

dan sepatu gaya klasik dengan hak datar. Pembawaannya tegak

dengan dagu terangkat sedikit sehingga tidak mengesankan kesombongan,

hanya keteguhan pendirian. Rambutnya berwarna

cokelat muda dan ditata dalam gaya yang paling populer di

Washington: gaya seorang "wanita penyiar" dengan gelombang

lembut dan indah di bagian bawah dan menyentuh bahunya ...

cukup panjang untuk dikatakan seksi, namun cukup pendek

untuk mengingatkan bahwa mungkin saja dia lebih pandai

dibandingkan Anda.

"Aku agak terlambat," perempuan itu berkata dengan nada

datar. "Aku ada janji makan pagi bersama Senator Sexton."

Tiba-tiba sang maitre d' merasa tergelitik. Senator Sedgewick

Sexton. Senator itu adalah pelanggan restoran ini dan sekarang

dia merupakan salah satu lelaki yang paling terkenal di negeri

ini. Minggu lalu, setelah mengalahkan secara telak kedua belas

calon presiden dari partai Republik pada Super Tuesday,* sang

senator jelas dicalonkan partainya sebagai kandidat Presiden

Amerika Serikat. Banyak orang percaya bahwa sang senator

memiliki kesempatan besar untuk merebut Gedung Putih dari

presiden saat ini dalam pemilu di musim gugur yang akan

datang. Akhir-akhir ini wajah Sexton muncul di setiap majalah

nasional, dan slogan-slogan kampanyenya tertempel di seluruh

Amerika: "Hentikan penghamburan uang. Mulailah perbaikan."

"Senator Sexton sudah ada di tempat duduknya," ujar sang

maitre d'. "Dan nama Anda?"

"Rachel Sexton. Putrinya."

Bodohnya aku, pikir lelaki itu. Kemiripan mereka jelas terlihat.

Perempuan itu memiliki mata setajam mata sang senator

dan pembawaan yang halus—aura ketabahan yang terlatih dari

seorang bangsawan. Jelas, wajah tampan sang senator merupakan

warisan turun-temurun, walau Rachel Sexton tampaknya menyandang

keunggulan tersebut dengan keanggunan dan kerendahan

hati yang seharusnya dicontoh ayahnya.

"Kami senang Anda berkunjung ke sini, Ms. Sexton."

Ketika sang maitre d' membimbing putri sang senator itu

melintasi ruang makan, dia merasa malu dengan lirikan para

lelaki di ruangan tersebut yang mengikuti tamunya ... beberapa

di antaranya mengerling diam-diam, namun yang lainnya tampak

lebih terang-terangan. Hanya segelintir perempuan yang makan

di Toulos dan lebih sedikit lagi yang terlihat seperti Rachel

Sexton, sehingga kunjungannya kali ini menarik minat laki-laki

yang makan di sana.

*Hari Selasa di awal bulan Maret dalam tahun pemilihan presiden, di

mana hampir seluruh negara bagian di AS mengadakan pemilihan awal

calon presiden secara serentak—penerjemah.

"Tubuh yang indah," bisik salah seorang tamu. "Sexton

sudah punya istri baru?"

"Itu putrinya, bodoh," jawab yang lainnya.

Lelaki itu terkekeh. "Seperti tidak kenal Sexton saja. Dia

mungkin akan menidurinya juga."

KETIKA RACHEL tiba di depan meja ayahnya, sang senator

sedang menggunakan ponselnya dan berbicara dengan lantang

tentang keberhasilannya baru-baru ini. Dia menatap Rachel

sekilas dan kemudian mengetuk jam tangan Cartier-nya untuk

mengingatkan putrinya bahwa dia terlambat.

Aku juga rindu padamu, Ayah, kata Rachel, sinis.

Sesungguhnya nama depan ayahnya adalah Thomas, tetapi

dia kemudian menggunakan nama tengahnya sejak lama. Rachel

menduga itu karena ayahnya menyukai nama depan dan nama

belakang dengan huruf awal yang sama seperti orang-orang

terkenal itu. Senator Sedgewick Sexton, begitulah namanya sekarang.

Lelaki itu berambut perak, seorang politisi yang juga

ber-"lidah perak" alias pintar bicara, dan diberkahi dengan wajah

cerdik layaknya pemeran dokter dalam opera sabun. Peran tersebut

sepertinya cocok mengingat bakatnya yang pandai menirukan

karakter orang lain.

"Rachel!" Ayahnya kemudian mematikan ponselnya dan

berdiri untuk mencium pipi putrinya.

"Hai, Ayah." Rachel tidak membalas ciuman ayahnya.

"Kau tampak letih."

Yah, mulai lagi deh, katanya dalam hati. "Aku menerima

pesanmu. Ada apa?"

"Memangnya aku tidak boleh mengajak putriku keluar untuk

makan pagi?"

Rachel sudah tahu sejak lama, ayahnya jarang sekali minta

ditemani olehnya kecuali jika ada maksud tersembunyi.

Sexton menyesap kopinya. "Jadi, apa kabarmu?"

"Sibuk. Kulihat, kampanye Ayah berjalan baik sekali."

"Oh, jangan bicara soal pekerjaan." Sexton mencondongkan

tubuhnya ke depan, dan merendahkan suaranya. "Bagaimana

dengan lelaki dari Departemen Luar Negeri yang kukenalkan

padamu itu?"

Rachel menarik napas dengan kesal. Sejak tadi dia sudah

berusaha keras agar tidak melirik jam tangannya. "Ayah, aku

betul-betul tidak punya waktu untuk meneleponnya. Dan kuharap

Ayah akan berhenti berusaha untuk—"

"Kau harus menyempatkan diri untuk melakukan hal-hal

penting, Rachel. Tanpa cinta, semuanya akan tidak berarti."

Sejumlah kenangan terlintas dalam benak Rachel, tetapi dia

memilih diam. Sepertinya, berakting seperti orang besar tidak

sulit bagi ayahnya. "Ayah, kau bilang ingin bertemu denganku.

Ayah bilang ada hal penting."

"Benar." Sexton menatap Rachel dengan lebih saksama.

Rachel merasa sebagian pertahanan dirinya meleleh di bawah

tatapan tajam ayahnya, sehingga dia mengutuki kekuatan lelaki

itu dalam hati. Tatapan tajam adalah bakat sang senator, bakat

yang menurut Rachel mungkin akan membawa ayahnya ke

Gedung Putih. Pertama-tama ayahnya dapat membuat matanya

dibanjiri air mata, sesaat kemudian mata tersebut akan menjadi

jernih, seolah-olah pemiliknya membuka jendela jiwa yang penuh

ketulusan, sehingga membangkitkan kepercayaan pada semua

orang. Semua ini adalah tentang kepercayaan, begitu ayahnya

selalu mengatakan. Walau sang senator telah kehilangan kepercayaan

putrinya bertahun-tahun yang lalu, dengan cepat dia

dapat memperoleh kepercayaan negerinya.

"Aku punya sebuah tawaran untukmu," kata Senator Sexton.

"Biar aku tebak," sahut Rachel sambil berusaha membangun

kembali ketenangannya. "Seorang duda-cerai sedang mencari istri

yang masih muda?"

"Jangan bercanda, Sayang. Kau sendiri sudah tidak semuda

itu..

Rachel merasa hatinya menjadi ciut seperti yang sering

dirasakannya setiap kali bertemu dengan ayahnya.

"Aku ingin memberimu sekoci penyelamat," kata sang senator.

"Aku tidak merasa sedang tenggelam."

"Kau memang tidak sedang tenggelam. Presiden yang sedang

tenggelam. Kau harus terjun meninggalkan kapal itu sebelum

terlambat."

"Kita sudah pernah membicarakan ini, bukan?"

"Pikirkan masa depanmu, Rachel. Kau bisa bekerja untukku."

"Kuharap itu bukan alasan Ayah mengajakku makan pagi."

Kesan tenang di wajah sang senator berubah walau sedikit

sekali. "Rachel, memangnya kamu tidak tahu bahwa dengan

bekerja pada Presiden, kau memberikan citra buruk kepadaku?

Dan kepada kampanyeku?"

Rachel mendesah. Dia dan ayahnya sudah pernah membicarakan

hal ini. "Ayah, aku tidak bekerja pada Presiden. Aku bahkan

belum pernah berjumpa dengannya. Aku bekerja di Fairfax."

"Dalam politik, kesan sangat penting, Rachel. Kau terkesan

bekerja untuk Presiden."

Rachel menghela napas dan berusaha untuk tetap tenang.

"Aku sudah berjuang terlalu keras untuk mendapatkan pekerjaan

ini, Ayah. Aku tidak akan berhenti."

Mata sang senator menyipit. "Kautahu, kadang-kadang sifat

keras kepalamu itu betul-betul—"

"Senator Sexton?" Seorang wartawan muncul di samping

meja mereka.

Dengan cepat sikap sang senator melunak. Rachel mengerang

dalam hati dan mengambil sepotong croissant dari sebuah

keranjang kecil di atas meja.

"Ralph Sneeden," kata wartawan itu. "Washington Post. Boleh

saya mengajukan beberapa pertanyaan?"

Sang senator tersenyum, lalu mengusap mulutnya dengan

selembar serbet. "Dengan senang hati, Ralph. Singkat saja, ya.

Saya tidak mau kopi saya dingin."

Si wartawan hanya tertawa. "Tentu saja, Pak." Lalu dia

mengeluarkan sebuah alat perekam kecil dan menyalakannya.

"Senator, iklan kampanye Anda di televisi menuntut pengesahan

hukum untuk memastikan persamaan upah kerja bagi perempuan

... demikian juga pemotongan pajak bagi keluarga-keluarga muda.

Dapatkah Anda memberikan pernyataan tentang alasan tuntutan

Anda itu?"

"Tentu. Saya hanya seorang pengagum fanatik perempuan

yang ulet dan keluarga yang kuat."

Rachel benar-benar tersedak dengan croissant-aya.

"Lalu mengenai topik keluarga," lanjut wartawan itu, "Anda

berbicara banyak tentang pendidikan. Anda mengusulkan pemotongan

anggaran yang tinggi dan kontroversial untuk dialokasikan

sebagai tambahan bagi sekolah-sekolah negeri."

"Saya percaya bahwa anak-anak merupakan masa depan kita."

Rachel tidak dapat percaya ayahnya begitu noraknya sehingga

harus mengutip syair lagu-lagu pop.

"Yang terakhir, Pak," kata si wartawan. "Menurut jajak pendapat,

perolehan angka Anda melonjak tinggi selama beberapa

minggu terakhir ini. Presiden pasti merasa khawatir. Anda memiliki

pendapat tentang keberhasilan Anda baru-baru ini?"

"Saya kira itu ada hubungannya dengan kepercayaan. Rakyat

Amerika mulai melihat bahwa Presiden tidak dapat dipercaya

untuk membuat keputusan yang kuat bagi bangsa ini. Pengeluaran

negara yang tidak terkendali membuat hutang menjadi

semakin bertumpuk setiap hari, dan rakyat Amerika mulai sadar

bahwa sudah saatnya mereka berhenti mengeluarkan uang dan

memperbaiki keadaan."

Seperti mengakhiri retorika ayahnya, penyeranta di dalam

tas Rachel berbunyi. Biasanya, suara alat elektronik itu mengganggunya,

namun kali ini suaranya terdengar sangat merdu.

Sang senator melotot marah ke arah Rachel karena merasa

terganggu.

Rachel merogoh-rogoh tasnya untuk mencari penyerantanya,

lalu menekan kode yang terdiri atas lima digit untuk memastikan

bahwa dialah yang memegang penyeranta itu. Bunyi penyeranta

itu berhenti, dan lampu LCD-nya mulai berkedip. Dalam lima

belas detik, dia akan menerima sebuah pesan dari jalur aman.

Sneeden tersenyum pada sang senator. "Putri Anda pasti

orang yang sangat sibuk. Senang melihat Anda berdua masih

menyisipkan acara makan bersama dalam jadwal Anda yang

padat."

"Seperti yang saya katakan tadi, keluarga selalu nomor satu."

Sneeden mengangguk, dan kemudian tatapannya mengeras.

"Boleh saya bertanya, Pak. Bagaimana Anda dan putri Anda

mengatasi konflik kepentingan di antara Anda berdua?"

"Konflik?" Senator Sexton menegakkan kepalanya dengan

wajah polos untuk menunjukkan ekspresi kebingungan. "Maksudmu

konflik apa?"

Rachel melirik ayahnya dan merasa jijik dengan sikap munafik

seperti itu. Dia tahu dengan pasti, ke mana arah semua ini.

Wartawan sialan, pikir Rachel. Setengah dari mereka merupakan

orang-orang bayaran untuk kepentingan politik tertentu. Pertanyaan-

pertanyaan wartawan itu disebut para jurnalis sebagai

pertanyaan buah anggur—sebuah pertanyaan yang terlihat sulit

tetapi sebenarnya hanya merupakan skenario demi keuntungan

sang senator sendiri—sebuah pukulan lob lambat yang dapat

dikembalikan ayahnya dengan smash ke bidang lawan untuk

menjernihkan beberapa hal tertentu.

"Begini, Pak ...." Si wartawan terbatuk, berpura-pura merasa

tidak enak karena pertanyaannya tadi. "Pertentangan karena putri

Anda bekerja pada lawan politik Anda."

Tawa Senator Sexton meledak, dan dengan cepat mengaburkan

pertanyaan itu. "Ralph, pertama-tama, Presiden dan saya

bukan lawan politik. Kami hanyalah dua orang patriot yang

memiliki dua gagasan berbeda tentang bagaimana membangun

negara yang kami cintai ini."

Si wartawan berseri-seri wajahnya. "Lalu yang kedua?"

"Kedua, putri saya tidak bekerja untuk Presiden. Rachel

hanya bekerja pada komunitas inteiijen. Dia mengunipulkan

laporan-laporan inteiijen dan mengirimkannya ke Gedung Putih.

Itu bukan jabatan yang terlalu penting." Sang senator berhenti

sejenak dan menatap Rachel. "Aku juga tidak yakin kau sudah

pernah bertemu dengan Presiden, ya kan, Sayangku?"

Rachel menatap ayahnya dengan mata melotot.

Penyeranta itu berbunyi lagi, sehingga tatapan Rachel berpindah

pada pesan yang muncul di layar LCD.

—RPT DIRNRO STAT—

Rachel mengartikan pesan itu dengan cepat, lalu mengerutkan

keningnya. Pesan itu tidak terduga, dan jelas merupakan

kabar buruk. Tapi paling tidak dia memiliki alasan untuk pergi

sekarang.

"Bapak-bapak," katanya, "saya sangat menyesal, tetapi saya

harus pergi. Saya terlambat bekerja."

"Ms. Sexton," ujar wartawan itu dengan cepat, "sebelum

pergi, dapatkah Anda memberikan komentar tentang kabar angin

bahwa Anda diundang makan pagi ini untuk membicarakan

kemungkinan Anda meninggalkan kedudukan Anda sekarang

demi kampanye ayah Anda?"

Rachel merasa seolah-olah seseorang telah menyiramkan kopi

panas ke wajahnya. Dia betul-betul tidak siap menerima pertanyaan

itu. Rachel menatap ayahnya dan merasakan, dari seringai

sang ayah, bahwa pertanyaan wartawan itu telah diatur.

Dia sangat ingin naik ke atas meja dan menusuk ayahnya dengan

garpu.

Si wartawan menyodorkan perekamnya ke arah wajah Rachel.

"Miss Sexton?"

Rachel menatap mata wartawan itu dengan tajam. "Ralph,

atau siapa pun namamu, dengar ini baik-baik: Aku tidak punya

niat meninggalkan pekerjaanku untuk bekerja pada Senator

Sexton, dan jika kau memutar balik pernyataanku, kau akan

memerlukan pencungkil sepatu untuk mengeluarkan perekam

ini dari anusmu."

Mata wartawan itu terbelalak. Dia lalu mematikan perekamnya

sambil diam-diam tersenyum. "Terima kasih, Anda berdua."

Kemudian dia menghilang.

Rachel segera menyesali luapan kegusarannya tadi. Dia rupanya

telah mewarisi sikap buruk ayahnya, dan mungkin karena

itulah dia membenci ayahnya. Bagus, Rachel. Sangat bagus.

Ayahnya melotot ke arahnya dengan tatapan tidak setuju.

"Kau betul-betul harus belajar bersikap lebih baik."

Rachel mulai mengumpulkan barang-barangnya. "Pertemuan

ini sudah selesai."

Tampaknya urusan sang senator dengan putrinya itu juga

sudah selesai. Dia lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon

seseorang. "Dah, Sayang. Mampirlah ke kantorku sering-sering.

Dan menikahlah! Ingat, kau sudah 33 tahun sekarang."

"Tiga puluh empat," sergah Rachel. "Sekretaris Ayah saja

ingat."

Senator Sexton berdecak dengan nada menyesal. "Tiga puluh

empat. Hampir jadi perawan tua. Kautahu, ketika aku berusia

34, aku sudah—"

"Menikahi Ibu dan berselingkuh dengan tetangga?" Katakata

itu terucap lebih keras dari yang dimaksudkan sehingga

merusak ketenangan di restoran itu. Para tamu yang duduk di

dekat mereka menoleh ke arah ayah dan anak ini.

Senator Sexton memandangnya dengan dingin, sehingga

Rachel merasa ada dua pedang es kristal yang menancap di

tubuhnya. "Berhati-hatilah kau, Nona."

Rachel beranjak menuju pintu. Tidak, berhati-hatilah kau,

Senator.[]